Mungkinkah Lockdown Solusi Tepat.? - 24 inews

Breaking

Selasa, 24 Maret 2020

Mungkinkah Lockdown Solusi Tepat.?


Oleh: Sigit Argyono 
Mahasiswa Universitas Dharmas Indonesia

Covid-19 akhir-akhir ini menjadi momok yang menakutkan dan menjadi bahan perhatian khusus di belahan dunia mana pun khususnya Indonesia. Saat ini, Italia, Amerika Serikat, dan Spanyol tercatat sebagai Negara dengan kasus terbesar di luar China dalam data peta Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE.

Jumlah kasus infeksi Virus Corona jenis baru atau COVID-19 paling besar tercatat di China, yang memiliki 81.345 kasus, dengan jumlah kasus terbesar kedua yang tercatat di Italia yang mencapai 53.578 kasus. Angka kematian paling besar tercatat di Italia, yang mencapai 4.825 jiwa dan total kematian terbesar kedua berada di Provinsi Hubei, China, yang berjumlah 3.144 jiwa. Kasus infeksi COVID-19 terbesar ketiga tercatat di Amerika Serikat, yang mencapai 26.747 kasus.

Lalu apa yang di lakukan Indonesia atau solusi apa yang dilakukan untuk mencegah agar wabah ini tidak masuk ke Indonesia, agar tidak masuk ke daerah-daerah yang ada. Lockdown adalah salah satu solusi yang selalu di bicarakan untuk mencegah wabah covid-19, dan negara tetangga Malaysia sudah menerapkannya mulai tanggal 18 Maret – 31 Maret 2020.

Lalu apakah Indonesia akan melakukan langkah yang sama, namun jika kita lihat kembali kemampuan masyarakat untuk menerima solusi lockdown ini, berat rasanya. Kenapa, masyarakat Indonesia masih banyak yang bekerja sekarang upahnya hanya cukup untuk sekarang atau hari ini saja dan paling lama besok, jadi mohon di perhatikan untuk lockdown ini, sebelum benar-benar di berlakukan di Indonesia.

Lalu apa lagi solusi nya ??? Beraktivitas di dalam rumah, beribadah, bekerja di dalam rumah, meliburkan siswa atau belajar dalam jaringan selama 14 hari di dalam rumah. Apakah solusi ini bisa menjadi senjata ampuh untuk mencegah wabah covid-19 yang merajalela.

Di lihat kembali daya himbauan pemerintah, pihak sekolah untuk beraktivitas 14 hari di dalam rumah ternyata tidak begitu di terapkan oleh masyarakat banyak khususnya para siswa. Siswa malah menjadi tidak benar-benar di rumah, mereka menganggap 14 hari ini adalah liburan, sehingga para siswa memanfaatkannya untuk berkumpul bersama teman-teman, jalan-jalan dan ada pula yang piknik.

Apalagi dengan mahasiswa yang kuliah di kota lalu pulang ke desa untuk mengisolasikan diri, ini juga menjadi perhatian khusus apakah mahasiswa ini benar-benar ingin mengisolasi kan dirinya atau malah menularkan covid-19 ke masyarakat yang ada di desa.

Lantas apa yang sebenarnya khususnya untuk kita pribadi dalam menyikapi fenomena covid-19 ini. Tetap lakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), selalu mengatur pola makan dengan makanan-makanan yang terjamin Halal nya.

Berolahraga,  Menjaga kontak secara langsung atau jarak dengan orang lain, menggunakan masker ketika ingin beraktivitas, kurangi aktivitas di luar rumah dan beraktivitas di dalam rumah. Karna pada dasar nya kesehatan itu berawal dari kita dan untuk kita.

Harapan saya dan tentu menjadi harapan kita semua, semoga fenomena covid-19 ini cepat berlalu dan tidak banyak menambah korban jiwa, dan apa pun solusi yang di berikan oleh pemerintah pusat maupun daerah mari kita patuhi dan dilaksakan agar covid-19 ini tidak menyebar luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.24inews.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius